27.7.07

Pink & 07/07/07

Dari dulu kalau aku diminta pilih warna, pasti warna pink jadi warna terakhir yang aku pilih. Entah kenapa aku paling anti sama warna ini. Padahal kata orang, pink itu warnanya perempuan. Tapi sumpah mati, dulu aku benci banget sama warna ini. Sampai entah berapa bulan yang lalu, mulai ada perubahan dan aku mulai melirik warna ini.

Kalau dilihat-lihat, pink yang agak soft cantik juga. Jadi inget kalau dulu tanteku sempat membuatkan satu baju kantor berwarna pink yang jarang banget aku pake. Sekarang baju itu sudah beberapa kali aku pakai untuk ke kantor sesudah aku cari jilbab yang warnanya sesuai. Cantik juga...ehm...ehm...

Terus....apa hubungannya dengan 07/07/07?

07/07/07 adalah 07 Juli 2007, adalah hari yang dipilih oleh adik sepupuku untuk melangsungkan pernikahan dengan pria pilihan hatinya. Adik sepupuku itu "gila" dengan warna pink alias semua barang miliknya hampir semuanya berwarna pink. Dan sesuai keinginannya, nuansa yang digunakan di pesta pernikahan adalah tentunya pink!



Aku sebagai kakak sepupu tertuanya kebagian jadi among tamu yang diberi seragam warna pink deh lengkap dengan jilbabnya. Untung aku sudah mulai suka sama warna ini, jadi nggak BT pake kebayanya.

24.7.07

My Dad


Bulan Maret 2006, Papa kena stroke. Aku dan 3 orang tanteku segera berangkat ke Menado untuk jenguk Papa yang diopname di rumah sakit.

Berangkat dengan Lion Air pagi sekitar jam 10.00 wib, kami sampai di Menado siang hari, langsung ke rumah sakit.

Sedih banget aku lihat Papa, seorang dokter ahli penyakit dalam, terbaring di tempat tidur karena stroke. Tapi alhamdulillah, masih bisa duduk bangun...tapi begitu diajak bicara, ngenes aku dengernya. Kalau kata orang sunda mah, ngomongnya balelol alias pelo, kecuali kalo Papa bicara pelan2 baru jelas.

Adikku bilang sebetulnya sudah terasa gejalanya oleh Papa tapi berhubung dia merasa seorang dokter, gejala itu dianggap remeh, malah cuma dianggap gejala sakit biasa. Sebelum masuk rumah sakit aja, Papa tidak mau diperiksa ke dokter lain. Sesudah dipaksa oleh adikku yg juga calon dokter, akhirnya Papa mau dibawa ke tempat praktek temannya. Sengaja teman Papa tidak mau periksa ke rumah, sebab kalo beliau ke rumah dan ternyata Papa harus diopname, pasti Papa menolak. Maka dari itu, Papa dibawa keluar supaya kalau harus masuk RS, bisa langsung diantar ke RS yang dituju. Pintar juga ya...taktiknya....

Sekarang, tidak terasa, sudah 1 tahun lebih sejak Papa terkena serangan penyakit itu. Syaraf bagian kiri Papa yang terkena. Jadi Papa harus banyak latihan lagi, baik itu latihan menggenggam dan latihan jalan lagi.


Yang buat aku sedih bukan hanya karena Papa kena stroke, tapi lebih karena Papa seperti tidak punya semangat untuk sembuh. Sering Papa mengucap seperti menyesali penyakitnya. Bukannya menyemangati dirinya sendiri supaya cepat sembuh malah Papa sering bilang, "Kenapa sih, mau mati aja kok susah?"

Sedih deh....dengernya.

Memang sih sejak Papa pensiun sepertinya Papa kehilangan semangat hidup. Setiap hari kata adikku, Papa hanya duduk di depan tv dari pagi sampai malam. Adikku ajak Papa untuk ikut seminar yg ada hubungannya dengan kedokteran, Papa tidak pernah mau ikut. Selalu bilangnya, "Papa kan sudah pensiun. Biar saja dokter2 yang masih dinas yang datang." Sepertinya Papaku kena "post power sindrom" atau kehilangan semangat sesudah pensiun.
Syukur alhamdulillah Allah mengkaruniakan seorang cucu laki-laki buat Papa dari adikku yang di Balikpapan. Dialah yang sampai saat ini jadi penyemangat Papa.


Bulan puasa kemaren, Papa dan Mama liburan ke Bogor. Biar Papa dapat suasana lain sekalian berobat ke dokter mata di RS Bhayangkara Jakarta. Ternyata Papa juga kena katarak.

Di RS Bhayangkara, kedua mata Papa di operasi dan alhamdulillah berhasil dengan baik. Juga Papa ke dokter di BSD, dokter khusus stroke. Papa harus ikut diet ketat, makan sayuran: brokoli, tomat 2 buah, timun 2 buah, daun selada 1 bonggol dan telur 2 butir putihnya saja ditambah ayam atau ikan tetapi tidak boleh digoreng. Dan setiap hari harus ke dokter tersebut untuk disuntik. Jadi setiap hari Papa pergi pulang Bogor - BSD untuk berobat. Kemajuannya lumayan cuma Papa susah diajak latihan. Di Bogor lama di Menado tetap dipertahankan...nonton tv dari sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi di malam hari. Malah sering tertidur di depan tv.

Rencananya Papa dan keluarga di Menado akan pindah ke Bogor. Rumah sudah dibeli dan mereka sedang siap2 pindah dari Menado sambil menunggu sang calon dokter di wisuda dan yang paling kecil menunggu pengumuman penempatan kerjanya di kehakiman juga sambil menawarkan rumah yang di Menado untuk dijual.

Insya Allah, Lebaran tahun ini semua sudah pindah ke Bogor.
Semoga dengan kepindahan Papa ke Bogor, aku bisa menemukan lagi Papaku yg dulu. Papa yang ceria, Papa yang humoris, Papa yang ramah pada semua orang, gemar bergaul dan ngobrol ngalor ngidul, Papa yang religius dan yang lebih penting lagi Papa yang sehat seperti Papa sebelum terkena stroke, Insya Allah.

All the best for you, Dad!

16.7.07

Waduh.....

Jumat kemarin temenku nagih janji..."Mbak, mana dong pesananku. Udah dari bulan lalu lho aku pesan brownies kukus yg keju. Kok masih belum dibikinin juga? Aku pesan 2 deh buat oleh-oleh pulang ke Brebes"

Waduuuhh...mau nggak mau aku harus bikinin nih...kalau mau dibawa pulang. Padahal hari Kamis kemarin itu rencananya pulang kantor aku mau tidur lebih cepet karena malam sebelumnya tidur lat jam 00.30 ngabisin bacaan buku "Ayat-ayat Cinta" yang khusus dibeliin misua (malah dia duluan yg baca). Terpaksa deh...rencana tersebut aku tunda demi janji yg belum aku tepati...

Pulang kantor aku "tengbur" jam 17.30, mampir di warung dulu beli tambahan telur. Sampai rumah...kok...malas amat ya.....
Aku tunda sampai habis makan malam, malah suami yg ingetin buat bikin kue.

Kira-kira jam 20.30 wib, mulai deh siap2 bikin kue sambil deg-deg-an takut kuenya jelek karena bikinnya sambil males-malesan. Jam 11 malam kue jadi...waktu aku intip di kukusan....alhamdulillah...matangnya bagus banget, nggak mengecewakan.
Langsung aku bikin kotaknya, mandi n siap-siap tidur deh.

Terima kasih ya Allah, atas rahmatmu atas pesanan kue ini. Soalnya kalo hasilnya jelek, pasti bukan cuma aku yang kecewa, temenku juga pasti kurang puas kan.

Ini dia nih foto brownies kukus keju buatanku...hehehe....

11.7.07

My Brownies Kukus

Kira-kira hampir dua tahun yang lalu, di masa2 "paceklik", kepala hampir pecah cari alternatif tambahan uang saku, alhamdulillah....dapet bocoran resep brownis kukus dari tante yang kebetulan jualan kue jenis ini di Jakarta. Sesudah uji coba beberapa kali ke saudara dan temen2, mulai deh memberanikan diri untuk menjual sang kue tersebut.

Awalnya dicoba di arisan RT dulu.....alhamdulillah tanggapan ibu2 lumayan membesarkan hati. Terus coba bawa ke kantor.....alhamdulillah....testernya habis. Tapi yang jadi pelanggan malah temen2 dari kantor sebelah dan ada satu "mantan" tetanggaku di Bogor yang rutin pesan brownis kukus-ku setiap mereka ada acara. Malah pernah lho, kue bikinanku dijadikan souvenir di acara selamatan 3 bulan kehamilan menantunya (waktu itu ibu tersebut pesan 25 buah brownis kukus kenari).

Sampai detik ini aku masih menerima pesanan brownis kukus walaupun sekarang sudah jarang ada pesanan (udah mulai bosen mungkin dengan kue jenis ini). Mau uji coba kue yang lain....waktu dan tempat belum memungkinkan, padahal simpanan resep bermacam-macam kue sudah lengkap lho di file komputerku.

Cita-cita sih kalo nanti kesampaian, pengen punya kios kecil tempat aku jualan kue-kue hasil buatanku sendiri. Syukur2 sih kalo bisa buka kafe kecil yang ramai dan jadi tempat favorit baik tempatnya, makanan n minumannya atopun pelayanannya. Insya Allah.

(Trima kasih yang tak terkirakan buat Sandi yang sudah bersusah payah membuatkan logo buat kue-ku. Thanks Brother!)

10.7.07

Aku


Siapa aku?

Seorang perempuan yg terlahir di sebuah rumah sakit di kota Medan 38 tahun yang lalu.
Dibawa pindah ke kota hujan, Bogor, oleh kakek dan nenek di tahun 1970, dan sejak itu tumbuh dan berkembang disana.
Selepas SMA, menuntut ilmu di sebuah sekolah pariwisata dan perhotelan yang nge"top" di Bandung selama 3 tahun. Setelah itu mengadu nasib di Jakarta bahkan sempat juga di Bogor.
Saat ini "terdampar" di sebuah perusahaan agrokimia yang lumayan ternama di Indonesia setelah mengalami 6 kali pindah kerja. Semoga ini menjadi tempat "peristirahatan" terakhir dari perjalanan karirku. Insya Allah. Walaupun tidak nolak jadi "kutu loncat" yang terakhir kalinya kalau ada tawaran yang lebih baik sebagai bekal tabungan di hari tua.
Status menikah dengan seorang pujaan hati tambatan jiwa... ;-)